Pengait kata (tags) tulisan ‘ musik

11
Nov
09

MUSIK KREATIF 1

Musik pada hakikatnya adalah bagian dari seni yang menggunakan bunyi sebagai media penciptaannya. Walaupun dari waktu ke waktu beraneka ragam bunyi, seperti klakson maupun mesin sepeda motor dan mobil, handphone, radio, televisi, tape recorder, dan sebagainya senantiasa mengerumuni kita, tidak semuanya dapat dianggap sebagai musik karena sebuah karya musik harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut merupakan suatu system yang ditopang oleh berbagai komponen seperti melodi, harmoni, ritme, timbre (warna suara), tempo, dinamika, dan bentuk.

kreatifKreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreativitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru.

Musik Kreatif sebenarnya tidak asing lagi ditelinga kita terutama para guru di sekolah khususnya guru kesenian, hanya saja secara umum pemahaman ini terkikis dengan sistem pembelajaran yang tidak dikembangkan secara utuh yang bertradisi turun-temurun di pelajaran kesenian di sekolah. Pemahaman yang menjadi tradisi tersebut diantaranya :

Belajar kesenian itu…

  1. Harus punya bakat / talenta tertentu (vocal,menari,memainkan alat musik, dsb..)
  2. Harus punya alat musik (keyboard,gitar dsb)
  3. Kesenian itu mahal, susah, dsb..

Sehingga yang akan terjadi adalah, pemahaman klasik ini dapat merusak nilai-nilai kreatifitas pada siswa yang harusnya dapat kita kembangkan sesuai dengan pengalaman musikalitas yang ada pada mereka, bukan bakat dan talenta. Memang siswa yag mempunyai bakat atau talenta tersebut sangat berarti bagi perkembangan seorang anak apabila anak atau siswa tersebut lebih menggali potensi dirinya diluar pelajaran yang ada disekolah, namun untuk pembelajaran musik kreatif justru menitik beratkan pada pengembangan musikalitas apa yang pada diri mereka sendiri, mereka bebas bereksplorasi dengan segala kemampuan dan kemauan mereka.

akhirnya dapat kita simpulkan bahwa harusnya semua itu kembali pada peran seorang guru; Peranan guru dalam pembelajaran musik kreatif sebaiknya tidak mendominasi proses pembelajaran di kelas. Guru diharapkan untuk menjadi fasilitator yang dapat memotivasi pengembangan musikalitas siswa, misalnya dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan bermain musik sebanyak-banyaknya, membiarkan siswa bekerja dalam kelompok kecil, membiarkan siswa bekerja dengan ide-ide mereka dan mengalami yang telah mereka miliki, memberikan batas-batas materi pembelajaran yang jelas, meningkatkan rasa ingin tahu dan pemahaman mereka tentang pelajaran musik dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

P06-09-09_16.45[01]Selain aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas, guru juga dapat memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan di luar kelas, seperti mengadakan kerjasama dengan seniman-seniman tradisional untuk melakukan pertunjukan seni atau diskusi. Melalui kegiatan ini, siswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mereka tentang kesenian tradisional yang diharapkan dapat menambah perbendaharaan pemahaman mereka dalam melakukan aktivitas-aktivitas dalam pembelajaran musik kreatif secara menyeluruh. Guru haruslah menjadi pelopor kegiatan musik kreatif untuk kelas yang dia asuh. Biarkan mereka bebas berekspresi dan berkreasi melalui musik yang mereka buat. Guru memberi kebebasan kepada semua anak untuk mengolah bunyi dengan menggunakan media yang dekat dengan kehidupan mereka.

25
Sep
08

Polopalo

Gorontalo merupakan salah satu propinsi baru memisahkan diri dari propinsi Sulawesi Utara pada tahun 2001, memiliki jenis kebudayan dan adat istiadat yang beraneka ragam. Salah satu kesenian sebagai bagian dari kebudayaan daerah Gorontalo yang cukup terkenal yaitu musik tradisional Polopalo. Menurut masyarakat Gorontalo, musik tradisional Polopalo merupakan musik asli rakyat Gorontalo, namun pada perkembangannya, ternyata ditemui ada alat musik daerah lain yang hampir serupa dengan musik ini yakni alat musik Sasaheng dari Sangihe Talaud dan Bonsing dari Bolaang Mongondow.

 

Alat musik tradisional Polopalo merupakan alat musik jenis idiofon atau golongan alat musik yang sumber bunyinya diproleh dari badannya sendiri (M. Soeharto 1992 : 54), Dalam artian bahwa ketika Polopalo tersebut di pukul atau sebaliknya memperoleh pukulan, bunyinya akan dihasilkan dari proses bergetarnya seluruh tubuh Polopalo tersebut.

 

Alat musik Polopalo adalah alat musik yang bahan dasarnya terbuat dari bambu, bentuknya menyerupai garputala raksasa dan teknik memainkannya yakni dengan memukulkan ke bagian anggota tubuh yaitu lutut. Pada perkembangannya, Polopalo mendapatkan penyempurnaan pada beberapa hal, salah satunya adalah kini Polopalo dibuatkan sebuah pemukul dari kayu yang dilapisi karet agar mempermudah dan membantu dalam proses memainkan alat musik Polopalo. Hal ini memberi dampak selain tidak membuat sakit bagian anggota tubuh yang dipukul, juga membuat Polopalo tersebut berbunyi lebih nyaring.

 

Pada era tahun 60-an sampai sekitaran tahun 90-an, Polopalo biasanya dimainkan pada waktu – waktu tertentu, yang pada hari tersebut merupakan hari yang spesial menurut masyarakat Gorontalo. Contohnya, pada waktu masyarakat daerah Gorontalo telah selesai melaksanakan panen raya atau pada waktu bulan t’rang (bulan purnama). Tradisi memainkan musik Polopalo dilaksanakan tanpa menunggu perintah atau komando, dalam hal ini masyarakat tergerak dengan sendirinya karena merasa harus bergembira bersama dalam mensyukuri hari yang indah atau hari yang spesial tersebut. Biasanya musik tradisonal Polopalo itu dimainkan kira – kira pukul 22.00 sampai pukul 01.00 waktu setempat.

 

Musik Polopalo saat ini agaknya kurang diminati masyarakat. Kemungkinan penyebabnya antara lain, alat musik ini hanya dimainkan sendiri dengan variasi nada terbatas. Untuk lebih diminati, kemungkinan pengembangannya pada bentuk komposisi musik, yang diharapkan dapat menggugah generasi muda sebagai penerus kebudayaan, yang sehari-harinya mereka banyak mengkonsumsi berbagai aliran musik baru yang beraneka ragam. Oleh sebab itu pengambangan musik Polopalo diharapkan akan menghasilkan harmonisasi dan improvisasi variatif mengikuti perkembangan musik pada umumnya.

 

Bapak Arthur Galuanta, salah satu tokoh musik di Gorontalo mengasumsikan bahwa, sebenarnya alat musik Polopalo dapat di kembangkan dari 2 (nada) menjadi lebih, dalam artian musik Polopalo dapat dikembangkan jenis organologinya sehingga akan menghasilkan beberapa buah alat musik Polopalo dalam bentuk dan nada yang berbeda. Setelah itu Polopalo yang telah menjadi beberapa buah nada tersebut, akan dimainkan oleh beberapa orang dengan menyesuaikan komposisi yang telah dibuat. Secara otomatis musik Polopalo dengan variasi nada kemungkinan sudah bisa memainkan sebuah lagu. Variasi nada menjadi bahan pertimbangan ketika membuat komposisi, disesuaikan dengan sentuhan pengembangan yang telah kita nalarkan pada musik Polopalo tersebut.

 

 

 




 

November 2009
S S R K J S M
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Komentar Terakhir

ervina ibrahim di Momongu Lipu Concert
Syarif Ginoga di polopalo-2
ocha di mendekati konser…
angelhamzah di mendekati konser…
Steven Polapa di Momongu Lipu Concert
joe_selebes di Momongu Lipu Concert
Rukli Ismail di Polopalo
Yuniartie.Goi di Polopalo
Trubus Semiaji di Polopalo
Mimy Pulukadang di FSB-Kesenian
Nurlaila Tahir di Polopalo
Lia Indriani Mangopa di FSB-Kesenian
YERITA MAMONTO di Polopalo
fitrianingsi kasamo di Polopalo
steven domili di polopalo-2

Blog Stats

  • 1,874 hits

Tulisan Teratas

Pengarang